Bauntungbanua.id, Martapura – Pemerintah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mengambil langkah strategis untuk menghadapi kemarau ekstrem yang diperkirakan akan berlangsung lebih kering pada tahun 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar menggelar Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Rakor PB Karhutla) untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah.
Dalam rapat tersebut, Sekda Banjar H Yudi Andrea menekankan bahwa pencegahan harus menjadi prioritas utama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ia juga meminta para camat, lurah, hingga kepala desa untuk terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kabupaten Banjar, angka kasus Karhutla masih mendapat perhatian serius. Pada tahun 2025, tercatat ada 61 kejadian yang menghanguskan lahan seluas lebih dari 189 hektare. Sementara itu, memasuki periode Januari hingga Juli tahun 2026, telah terjadi 5 kejadian karhutla dengan luas terdampak mencapai 39,8 hektare.

Langkah antisipasi dini ini dinilai kian krusial mengingat BMKG memperkirakan musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih kering. Pemerintah daerah berencana mengaktifkan tiga titik strategi posko untuk menangani Karhutla dan dampak kekeringan.

Selain itu, BPBD Banjar juga fokus mengatasi dampak kekeringan dan krisis air bersih. Masyarakat yang membutuhkan pasokan air bersih diimbau untuk segera mengajukan surat permohonan resmi melalui pihak desa.


